Pojok Math'am Hadlrmaut
BERSERAH DIRI KEPADA ALLAH
Saya tak mengerti apakah para jemaah haji mengalami hal yang sama dengan apa yang saya rasakan. Ketika berhaji, hampir semua urusan harus diserahkan sepenuhnya pada kekuasaan Allah Swt. La hawla wa la quwwata illa billah. Ketentuan, taqdir dan kuasa Allah Swt amat besar dirasakan saat pelaksanaan haji. Sebagai contoh, berbagai upaya untuk mengatasi kepadatan Masjidil Haram saat pelaksanaan Tawaf Ifadah sudah kami rencanakan. Kami serombongan merasa khawatir apabila ada jemaah yang terpisah, tersasar bahkan pingsan. Subhanallah, rupanya lepas dari Mabit di Muzdalifah, bis kami diarahkan ke kota Mekkah hingga akhirnya kami melakukan Tawaf Ifadah dalam kondisi Masjidil Haram yang cukup lengang dan bahkan kami sempat Shalat Iedul Adha di sana. Demikian juga saat hendak melontar jumrah. Beberapa jemaah merasa ngeri saat melintasi terowongan Muaishim karena kepadatan manusia yang amat banyak. Namun setelah berpasrah diri kepada Allah, jalan terasa lapang bagi kami. Bahkan saat melontar pun dirasakan amat mudah oleh kami serombongan. Rasanya tidak ada satu urusan pun saat berhaji yang bisa dihandle 100% oleh tangan manusia. Di sana di tanah suci, seluruh urusan harus diserahkan sepenuhnya kepada kuasa Allah Yang Maha Perkasa. Bahkan jadwal penerbangan yang sudah disusun rapih pun terkadang mengalami keterlambatan. Maka semuanya harus dikembalikan kepada Allah Yang Maha Bijaksana.
Kita manusia hanyalah mampu berusaha, dan segala urusan pada akhirnya harus kita kembalikan kepada Sang Pencipta. Inilah konsep Tawakkal, berserah diri kepada Allah Swt dalam Islam. Sebuah konsep dimana bukan seorang hamba didoktrin untuk menjadi lemah dan malas, akan tetapi sebuah konsep yang menyadarkan seorang hamba untuk menambatkan potensinya pada energi Ilahi yang tiada batas. Manusia sebagai makhluk pada dasarnya memiliki keterbatasan dan kelemahan. Sedangkan Dia Swt adalah Ash-Shamad yang berarti Tempat Bersandar bagi setiap makhluk.
Maka akan menjadi indah pandangan hidup seorang hamba, bila ia melibatkan Tuhannya dalam setiap urusan kehidupan. Perhatikan bagaimana seorang pemimpin dunia bernama Muhammad Saw melibatkan Tuhannya dalam setiap urusan. Dia Saw kerap berdoa dengan redaksi seperti berikut:
“Ya Allah, perbaikilah agamaku yang menjadi pegangan hidupku, perbaguslah urusan dunia yang menjadi tempat sandaran hidupku, perbaikilah urusan akhiratku yang menjadi tempat kembaliku, dan limpahkanlah kebaikan dalam hidupku, dan jadikan kematian sebagai tempatku beristirahat dari segala keburukan”. (HR. Muslim)
Itulah yang dilakukan Rasulullah Saw dalam setiap urusannya. Beliau Saw meminta kepada Allah Swt untuk menangani semua urusan hidup yang beliau jalani. Hanyalah manusia sombong yang berkata, "Semua urusan bisa diatur!" Padahal apa yang akan ia kerjakan besok pun ia sendiri belum tahu bagaimana hasilnya. Bukankah Allah Swt pernah berfirman:
"Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." QS. 31 : 34
Karenanya, marilah kita perbanyak berserah diri kepada Allah Swt. Sebab siapa yang bertawakkal kepada Allah, maka segala urusannya akan Allah permudah.
sumber : www.kaunee.com
back to Pojok Math'am Hadlrmaut
Amanah Mulia © 2009 |